Tampilkan postingan dengan label amerika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label amerika. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Desember 2009

Jika di Bumi Tinggal 100 Orang

Pesan ini disampaikan oleh Sofin Faiz Admin Satu Hari Satu Nasihat (Facebook Group)
pada 06 Desember jam 4:38

Saya dapatkan renungan ini dari Bro Zul_hera, saya berterima kasih sekali kepadanya...,dan semoga sharing ini berguna untuk Anda.

Jika populasi bumi berkurang hingga menjadi sebuah desa dengan hanya 100 orang penduduk, seperti apakah profil desa kecil yang beragam ini?

Jika seluruh perhitungan rasio kependudukan dianggap masih berlaku?

Philip M.Hartner, MD dari Fakultas Kedokteran Stanford University, mencoba menemukan jawaban atas pertanyaan ini. Berdasarkan analisanya, desa kecil bumi akan terdiri dari:
57 orang Asia
21 orang Eropa
14 orang berasal dari belahan bumi sebelah barat
8 orang Afrika
52 perempuan
48 laki-laki
80 bukan kulit putih
20 kulit putih
89 heteroseksual
11 homoseksual
6 orang memiliki 59% dari seluruh kekayaan bumi, dan keenam orang tersebut seluruhnya berasal dari Amerika Serikat. 80 orang tinggal di rumah-rumah yang tidak menenuhi standard 70 orang tidak dapat membaca 50 orang menderita kekurangan gizi
1 orang hampir meninggal
1 orang sedang hamil
1 orang memiliki latar belakang perguruan tinggi
1 orang memiliki komputer


Marilah kita merenungkan analisa Hartner dan mulai dari hal-hal sebagai berikut :
• Jika anda tinggal di rumah yang baik, memiliki banyak makanan dan dapat membaca, anda adalah bagian dari kelompok terpilih.

• Jika anda memiliki rumah yang baik, makanan, dapat membaca dan memiliki komputer, anda bagian dari kelompok elit.

• Jika anda bangun pagi ini dan merasa sehat, anda lebih beruntung dari jutaan orang yang mungkin tidak akan dapat bertahan hidup minggu ini.

• Jika anda tidak pernah merasakan bahaya perang, kesepian karena dipenjara, kesakitan karena penyiksaan, atau kelaparan, anda berada
selangkah lebih maju dibandingkan 500 juta orang di dunia.

• Jika anda dapat menghadiri pertemuan politik atau keagamaan tanpa merasa takut akan dilecehkan, ditangkap, disiksa, atau mati, anda beruntung, karena lebih dari 3 milyar orang di dunia tidak dapat melakukannya.

• Jika anda memiliki makanan di lemari pendingin, baju-baju di lemari pakaian, dan memiliki atap yang menaungi tempat anda beristirahat, anda lebih kaya dari 75% penduduk di dunia ini.

• Jika anda memiliki uang di bank, di dompet, dan mampu membelanjakan sebagian uang untuk menikmati hidangan di restoran, anda merupakan anggota dari 8% kelompok orang-orang kaya di dunia.

• Jika orang tua anda masih hidup dan menikmat bahagianya kehidupan pernikahan mereka, maka anda termasuk salah satu dari kelompok orang yang dikategorikan langka, terutama di Amerika Serikat.

• Jika anda mampu menegakkan kepala dengan senyuman dibibir dan merasa benar- benar bahagia, anda memiliki keistimewaan tersendiri, karena sebagian besar orang tidak memperoleh kenikmatan tersebut.

Semoga anda menikmati hari yang indah ini. Hitunglah karunia keberuntungan anda, dan sampaikan hal ini kepada orang lain untuk mengingatkan bahwa sebenarnya, kita adalah orang-orang yang sangat beruntung

Minggu, 07 Juni 2009

Kezhaliman Penguasa Boneka Turuti Penjajah AS di Pakistan: 2 Juta Orang Mengungsi

Perang bawah tanah yang dilancarakan AS di Pakistan telah menjadikan derita Muslim Pakistan berlanjut. Di samping banyak warga sipil yang berjatuhan, jutaan orang lainnya mengungsi. Badan Pengungsi PBB melaporkan, jumlah orang yang terpaksa pergi menyelamatkan diri dari pertempuran di Pakistan baratlaut sejak Agustus 2008 telah melampui dua juta.

Jumlah itu mencakup 1,45 juta orang yang tercatat sebagai pengungsi selama ofensif militer Pakistan terhadap para pejuang muslim sejak 2 Mei, dan 553.916 orang lagi yang menyelamatkan diri dari pertempuran. Ketua Komisi Tinggi PBB Urusan Pengungsi (UNHCR) Antonio Guterres menyebut pengungsian itu sebagai salah satu krisis paling dramatis pada masa sekarang, kata jurubicara UNHCR Ron Redmond.

"Seperti berusaha menangkap sesuatu yabg bergerak di depan kita karena jumlah orang yang berpindah setiap hari begitu besar dan tanggapan tidak pernah memadai," kata Redmond kepada wartawan.

"Meninggalkan penduduk ini tanpa bantuan yang mereka perlukan -- dengan jumlah sebesar itu -- bisa menimbulkan sebuah faktor destabilisasi yang begitu besar," tambahnya.

Badan-badan PBB diperkirakan menyampaikan seruan mereka bagi pendanaan bantuan pekan ini yang jumlahnya bisa mencapai ratusan juta dolar, kata sejumlah pejabat.

"Kami tahu ini masa ekonomi yang sulit, namun kami yakin bahwa masyarakat internasional sama yang telah mengumpulkan dana milyaran untuk menyelamatkan sistem finansial juga memiliki kewajiban untuk menyelamatkan orang yang membutuhkan," kata Redmond.

Rakyat Pakistan Protes!

Sementara itu, pertempuran terus berlangsung antara pasukan Pakistan dan pejuang Taliban di Lembah Swat pada Senin. Pihak pemerintah menyatakan memperoleh dukungan luas atas serangan itu dari partai-partai politik. Namun, sebagian besar masyarakat Pakistan lainnya melakukan kritikan keras terhadap sikap pemerintah yang telah mengikuti keinginan AS untuk membunuh Muslim Pakistan.

Perdana Menteri Pakistan Yusuf Raza Gilani menyatakan, militer akan menyelesaikan ofensif itu dan menjamin perdamaian, ketika ia meminta dukungan dari partai-paretai politik di tengah kekhawatiran yang meningkat mengenai nasib para pengungsi.

"Bentrokan-bentrokan hebat berlangsung di beberapa daerah Swat," kata jurubicara militer Mayjen Athar Abbas.

Duapuluh-tujuh mujahidin, termasuk tiga komandan, syahid dalam 24 jam terakhir, sementara tiga prajurit, termasuk seorang perwira, juga tewas dan 17 lain cedera.

Swat, daerah dengan pemandangan indah yang dulu tempat tujuan wisata namun kini menjadi pusat para pejuang Taliban, dan telah menjadi target Amerika dalam meneruskan aksi terorisnya di negeri Muslim tersebut.

Perjanjian yang kontroversial antara pemerintah dan para ulama pro-Taliban untuk memberlakukan hukum Islam di sebuah kawasan di Pakistan baratlaut yang berpenduduk tiga juta orang seharusnya mengakhiri pemberontakan Taliban yang telah berlangsung hampir dua tahun.

Sesuai dengan keinginan tuannya, teroris Amerika, Perdana Menteri Yousuf Raza Gilani telah mendesak rakyat Pakistan bersatu melawan kelompok ekstrim, yang menurutnya mengancam kedaulatan negara itu dan yang melanggar perjanjian perdamaian tersebut dengan melancarkan serangan-serangan.

Kawasan suku Pakistan, terutama Bajaur, dilanda kekerasan akibat keberingasan pasukan teroris AS melalui kampanye hitam "perang melawan teroris". Tentu saja, kaum Muslim menjadi korban atas kekerasan tersebut.

Rakyat Muslim Pakistan tentu geram melihat penguasanya yang tunduk kepada AS. Mereka melakukan protes keras atas kezaliman penguasa mereka. Bahkan direncankan, 31 Mei mendatang sebuah protes besar akan digelar yang diorganisir oleh Hizbut Tahrir Pakistan.

Penguasa Boneka Pakistan Turuti Tuannya

Pasukan Amerika menyatakan, daerah perbatasan Pakistan digunakan kelompok militan sebagai tempat untuk melakukan pelatihan, penyusunan kembali kekuatan dan peluncuran serangan terhadap pasukan koalisi di Afghanistan.

Pakistan mendapat tekanan dari AS agar menumpas kelompok Islam yang ingin menegakkan syariah Islam di wilayah Swat itu. Kedua penguasa boneka AS di Pakistan dan Afghanistan telah menghadap Barack Obama dan berjabat tangan dengannya. Keduanya mengamini titah penguasa teroris AS di abad ini.

Pakistan menempatkan sekitar 120.000 prajurit di sepanjang perbatasan itu dan menekankan bahwa tanggung jawab menghentikan penyusupan juga bergantung pada pasukan keamanan yang berada di Afghanistan. Menurut militer Pakistan, lebih dari 1.500 para pejuang muslim tewas sejak mereka melancarkan ofensif di Bajaur pada awal Agustus, termasuk komandan operasional Al-Qaeda di kawasan itu, Abu Saeed Al-Masri yang berkebangsaan Mesir.

Demikianlah, potret buram dunia Muslim. Kita menyaksikan bagaimana kebiadaban AS, bersama para penguasa bonekanya, Pakistan melakukan serangan brutal terhadap para ulama’ dan pengemban dakwah di Lembah Swat, semata karena mereka ingin syariat Islam diterapkan di sana.

Lebih dari 180 pejuang Muslim telah gugur sebagai syuhada’. Lebih dari ratusan ribu kaum Muslim, baik tua, muda, anak-anak, dewasa, laki dan perempuan terpaksa harus mengungsi (al-Jazeerah TV, 10/05/2009). Ironisnya, pembantaian ini terjadi setelah kedua penguasa boneka itu menghadap tuannya, Barack Obama, di Gedung Putih. Seolah ingin membuktikan kesetiaan mereka kepada titah sang tuan. Kalau begitu, untuk apa kekuasaan mereka? Apakah untuk ini, mereka mendapatkan kekuasaan dari umat?

Benar, hanya Khilafah Rasyidah yang akan menyelamatkan Muslim Pakistan serta membebaskannya dari cengkraman penjajah AS. Institusi pelindung umat itu, tak akan lama lagi, segera berdiri. Jutaan kaum Muslim di berbagai pelosok dunia merindukan kedatangannya. Hingga suatu saat, Khilafah dengan berani mencampakkan penjajah AS bersama para kaki tangannya. Insya Allah.

Selasa, 02 Juni 2009

Amerika Musuh Utama Ummat Islam

Amerika dengan pemerintahan Obama melancarkan serangan sapu bersih terhadap sebagian besar negeri-negeri Islam dan umat Islam. Amerika mengobarkan perang saudara, menekan para penguasa anteknya agar menerapkan politik agresi dan permusuhan Amerika, dan mempermainkan urusan-urusan politik dalam dan luar negeri di negeri-negeri Islam yang lain.

Di Pakistan, Amerika telah berhasil melibatkan pasukan Pakistan dalam perang melawan Taliban secara komprehensif. Dalam merealisasikan tujuannya, Amerika dibantu oleh komandan militer dan presiden Pakistan, dimana keduanya menyatakan perang yang akan berlangsung lama terhadap gerakan Taliban.

Dengan mengobarkan perang saudara di Pakistan, maka terjadilah bencana lain yang membuat rakyat Pakistan terus menderita, jutaan rakyat Pakistanis lari dari lembah Swat, sehingga kamp-kamp pengungsi tidak lagi mampu menampung mereka, bahkan organisasi dari PBB mengumumkan terjadinya krisis kemanusiaan yang tidak menutup kemungkinan akan menjadi malapetaka kemanusiaan yang luar biasa.

Para petinggi Pakistan bukannya meninggalkan ketidakadilan, menghentikan peperangan, dan menolak pendiktian, serta campur tangan Amerika untuk kepentingan rakyat mereka, justru mereka semakin jauh melakukan ketidakadilan, bahkan mereka menuntut lebih banyak dukungan militer Amerika dan militer Inggris untuk terus melancarkan peperangan. Untuk itu, Zardari menandatangani strategi pakta pertahanan di London, dengan Perdana Menteri Inggris, Gordon Brown, serta meminta kepada Amerika untuk menambah pesawat-pesawat pengintai tanpa awak untuk membombardir benteng-benteng gerakan Taliban.

Di Somalia, Amerika Serikat, negara-negara Afrika, dan negara-negara Arab mendukung sikap Presiden Somalia, Syarif Sheikh Ahmed ketika mengumumkan perang melawan Gerakan Pemuda Mujahidin dan Partai Islam. Dalam sepuluh hari saja telah membunuh puluhan warga. Bahkan perang saudara di Somalia yang didukung oleh Amerika masih terus melayangkan nyawa-nyawa warga. Sehingga, penderitaan demi penderitaan terus membayangi rakyat Somalia, padahal selama ini mereka telah diselimuti penderitaan yang disebabkan oleh peperangan, kemiskinann, dan kekeringan.

Di Palestina, dan di sekitar negara-negara Arab, Perdana Menteri Negara Yahudi mengadakan perjalanan di Sharm el-Sheikh dan Amman. Anehanya, ia disambut dengan penuh kehangatan, padahal ia terang-terangan menolak semua solusi damai dengan mereka, para penguasa. Tentu pemandangan memalukan itu tidak akan pernah terjadi, seandainya tidak ada tekanan dari Amerika terhadap mereka, para penguasa pengkhianat itu agar menyambutnya. Bahkan, Amerika melalui Obama menuntut semua negara Arab dan negara yang ada di dunia Islam agar menormalisasi hubungan dengan entitas Yahudi sebagai prasyarat untuk mencapai apa yang disebut dengan proses perdamaian.

Sesungguhnya permusuhan Amerika yang terang-terangan terhadap kaum Muslim ini harus disikapi dengan permusuhan yang sama. Sehingga tidak boleh mengikuti apa yang didektikan oleh Amerika, dan tidak boleh memperlihatkan keramahan apapun kepada Amerika dan sekutunya yang telah banyak membuat problem-problem besar di tengah-tengah umat Islam.

Memperlihatkan permusuhan, mengobarkannya, dan menanamkannya merupakan perkara yang mungkin dan mudah. Kami melihat negara-negara Amerika Latin saja bisa membangun permusuhan terhadap Amerika Serikat, dan sukses hingga dalam beberapa hal mampu menghentikan agresi Amerika di Amerika Latin.

Termasuk paradok politik yang mengherankan bahwa negara-negara yang tidak mengenal Islam dan tidak mengenal ideologi besar berhasil membangkitkan rakyatnya untuk melawan dan memusuhi Amerika, sementara negara-negara yang ada di dunia Islam yang sedang mengalami kelumpuhan yang kronis belum mampu mengambil inisiatif untuk melawan arogansi Amerika. Lihatlah Burma – Myanmar – yang menghakimi pemimpin oposisi, Aung San Suu Kyi dengan tuduhan berkomplot dengan Amerika hanya karena ia bertemu dengan para utusan AS di rumahnya ketika ia dikenakan tahanan rumah.

Sesungguhnya yang harus dilakukan umat Islam adalah membangun kembali sikap permusuhan terhadap Amerika dan itu dilakukan dengan serempak sehingga menjadi opini umum di tengah-tengah umat Islam bahwa Amerika adalah musuh utama yang senantiasa mengancam kehidupan mereka semua.